Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu?

Sejujurnya saya sama sekali belum pernah menaiki pesawat. Makannya dari itu ketika saya melihat Kompetesi Blog 10 Tahun Air Asia Indonesia saya langsung mengikutinya. Kenapa? Sejujurnya juga saya ingin mengajak jalan-jalan ibu saya ke luar negeri. Tapi apa daya saya masih seorang mahasiswa yang belum mempunyai penghasilan. Makannya saya ingin membahagiakan ibu saya sebelum Ia tiada. Keinginan saya juga menghajikan ibu saya tapi apa daya lagi karena faktor belum mempunyai penghasilan.

Saya selalu iri melihat orang-orang yang bisa membahagiakan orangtuanya. Ibu mereka yang selalu tersenyum, yang selalu diajak jalan-jalan oleh anak-anaknya. Tapi berbeda dengan saya, ibu saya hanya ibu rumah tangga, ayah saya hanya pegawai swasta. Pernah suatu hari saya membuatkan ibu saya passpor karena waktu itu bibi saya mengajak kami berdua terbang ke Bangkok, Thailand. Tapi itu hanya sebuah harapan kosong saja. Nyatanya bibi saya telah terbang duluan ke Bangkok. Ya dengan rasa sedih, saya berharap kembali ke Tuhan agar dapat mengajak ibu saya jalan-jalan.

Saya tidak mau menyesali kembali penyesalan saya yang belum bisa membahagiakan orang-orang yang saya sayangi. Mungkin saya bercerita sedikit cerita sedih saya. Pada tahun 2012, nenek saya yang saya sangat sayangi menghadap Allah SWT. Saya ingat pada waktu itu saya sedang menemani nenek saya menonton tv. Tapi saya tidak sadar bahwa nenek saya itu sedang tidak sadar. Saya mengetahuinya ketika nenek saya diajak berbicara, Ia tidak meresponnya.

Darisana saya langsung panik. Nenek saya langsung dibawa ke rumah sakit. Pikiran saya disana buyar tak karuan. Beberapa bulan kemudian nenek saya tak sadarkan diri lagi. Saya ketika itu sedang di rumah sakit menjalani operasi usus buntu. Saya tidak tahu jikalau nenek saya juga sedang berada di rumah sakit. 3 hari kemudian saya pulang tapi saya diantarkan dahulu ke sebuah kamar. Ketika saya membuka pintu kamar saya melihat nenek saya sedang duduk di kasur sambil tersenyum kepada saya. Saya tidak berpikir bahwa itu adalah senyum terakhir dari nenek saya.

2 minggu kemudian nenek saya masuk ruang ICU. Saya disana hanya bisa berdoa dan sedih melihat nenk saya di ICU dengan berbagai alat yang menempel ditubuhnya. Tepatnya pada hari Rabu tanggal 25 Aprl 2012, ketika saya pulang sekolah saya menerima panggilan dari ayah saya bahwa nenek saya sedang kritis. Disana saya langsung berlari meski hari itu hujan pun saya tak peduli. Ketika saya sampai rumah sakit, saya langsung ke ICU disana saya langsung menangis sambil memeluk nenek saya. Saya mendengar perkataan dokter bahwa kalau nenek saya kritis kembali, dokter tidak bisa menyelamatkannya kembali. Saat mendengar itu saya langsung menanyakan ke ibu saya penyakit apa yang diderita nenek saya.

Ibu saya menjawab bahwa penyakit nenek saya adalah kanker paru-paru stadium akhir. Disana saya langsung lemas. Saya belum siap untuk ditinggal orang yang saya sayangi. Tepat pukul 00.30 nenek saya menghembuskan nafas terakhirnya. Jadi oleh sebab itu, saya ingin sekali bisa membahagiakan orang-orang yang saya sayangi di sekeliling saya.

Mungkin dalam kompetensi ini yang dipilih adalah orang-orang yang telah berpengalaman di luar negeri. Orang-orang yang derajatnya terlihat tinggi. Tapi jika memang Allah berkehandak begitu, mau tak mau saya sebagai hamba-Nya hanya bisa menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Mungkin Allah mempunyai rencana lain untuk membahagiakan kedua orangtua saya.

Disini saya sisipkan foto terakhir kalinya ibu saya berfoto dengan nenek saya.